PERISTIWA YANG MENYEBABKAN KONFLIK BATIN DAN MENTAL DISORDER
A.
PERISTIWA-PERISTIWA
YANG MENYEBABKAN KONFLIK BATIN
Perkembangan pribadi anak
merupakan produk kombinasi dari interaksi antara faktor bawaan dan faktor
lingkungan sosialnya. Maka hukum konvergensi menyatakan “ adanya kerjasama
antar faktor kodrati/ bawaan dan faktor sosial pada perkembangan kepribadian
anak manusia”. Jelasnya dalam setiap perkembangan anak, faktor hereditas atau faktor endogin dan
faktor milieu (faktor eksogin atau faktor sosial) itu bekerja sama, dan saling
mempengaruhi. Kedua faktor itu memberikan pengaruhnya terhadap proses
perkembangan anak.
Anak itu mempunyai
bakat-bakat dan kemampuan yang khas unik sehingga dia merupakan objek yang
aktif dinamis. Kemapuan endogin antara lain berupa ; kemapuan berjalan,
kesanggupan berbicara , tinggi intelegensi, kehidupan perasaan, dan
lain-lain. Untuk mengembangkan semua kemampuan
kodrati anak itu perlu diciptakan faktor eksogi atau lingkungan sosial yang
menguntungkan agar semua bakat dan potensi tadi bisa berkembang secara wajar.
Perkemangan yang sehat akan
berlangsung, bila fasilitas lingkungan sosial dan potensialitas anak
kedua-duanya bisa berjalan sejajar dan keduanya bisa mendorong berfungsinya
secara harmonis segenap kemampuan anak. Sebaliknya perkembangan pribadia anak
akan menjadi tidak sehat, apabila kondisi sosial dan pengaruh lingkungan justru
merusak dan melumpuhkan potensi psikofisis anak.
Pengaruh paling besar selama
perkembangan anak pada lima tahun pertama ialah Pengaruh Orang Tuanya. Terutama
sekali akan tampak menonjol pengaruh tersebut, jika terjadi salah bentuk pada
diri anak, disebabkan oleh salah tindak dari orang tuanya.
Banyak penulis menyatakan,
bahwa semua sumber pangkal dari tindak asosial, gangguan mental, serta
konflik-konflik batin pada diri anak ialah perbuatan orang tua yang buruk dan
keliru. Terutama sekali pribadi ibu yang melakukan tindak salah asuh, salah
didik, salah rawat, salah tuntun, salah ucap, salah tindak, dan lain-lain.
Sehingga ibu-ibu tersebut memprodusir anak-anak abnormal, asosial, asusila,
patologis, dan gangguan mental.
Abnormalitas tingkah laku,
konflik-konflik batin dan gangguan mental tersebut antara lain berupa : gejala
kolik (kekejangan pada usus), tics gerak-gerak facia yang stereo tipis,
ngompol, mengisap ibu jari, susah makan, selalu rewel saja, sukar tidur, dan
lain-lain. Pada umumnya, awal kesulitan tadi disebabkan oleh ibu-ibu dalam
mengasuh anaknya.
Makan para teoretisi yang
menganut paham envirom-mentalism berpendapat, sebagai berikut: “tidak ada anak
yang sukar; yang ada ialah orang tua yang sukar dan jahat. Problem children are
the product of problem parents.”
Beberapa kejadian yang bisa
menyebabkan timbulnya konflik-konflik serius pada diri anak-anak, antara lain
ialah:
1.
Kegagalan
Jika
ada discrepansy atau jarak yang terlalu lebar antara cita-cita yang diinginkan
anak dengan hasil yang sekarang dicapai, maka pasti akan timbul berbagai
konflik batin dan stres, jarak ini menjadi hambatan bagi pencapaian kepuasan
dan ketenangan batin, serta menimbulkan ketegangan-ketegangan eosional yang
tidak menyenangkan.
Kejadian-kejadian
semacam diatas lebih banyak terdapat
pada anak-anak yang pandai cemerlang (bright) dan ambisius daripada anak-anak
yang bodoh. Sebab, anak-anak yang pandai itu leboh sensitif dan responsif
terhadap rangsangan-rangsangan sosial. Dan pada umumnya mereka memiliir ambisi,
keingianan, dan cita-cita yang lebih besar lagi.
Juga
apabila standar dan tuntutan untuk berprestasi
dan tingkah laku dari orang tuanya terhadap anaknya terlalu berat, maka
hal ini sering mengakibatkan timbulnya kompleks inferior. Anak merasa gerogi,
pusing, tidak mampu, dan putus asa. Lalu timbul rasa rendah diri yang biasa
menjadi sebab utama dari munculnya konflik-konflik batin dan gangguan mental.
2.
Kebimbangan dan kebingungan
Jika
timbul dua kehendak, dua pilihan, atau beberapa motif hidup yang saling
bertentangan, maka kejadian ini menimbulkan banyak kebimbangan pada anak. Dan
menjadi bingung, apatis, bahkan jadi putus asa. Jadi, anak mengalami frustasi. Mereka lalu tenggelam dalam dunia
fantasinya, dan jadi pemimpi siang, yang berusaha mencapai cita-citanya dalam
impian atau angan-angannya.
Jika kejadian sedemikian berlangsung terus
menerus tanpa penyelesaian, pasti akan mengakibatkan gangguan mental serius.
Oleh karena itu, sebelum kejadiannya menjadi terlambat, diusahakan agar kita
mau menolong si anak secepat mungkin, usahakan pula memperoleh kepercayaan si
anak, dan dicari jalan penyelesaian secara bijaksana.
3.
Larangan sosial
Anak-anak muda itu sifatnya
sangat dinamis dan penuh vitalitas, dorongan-dorongan dan nafsu-nafsunya
menggelora, aktifitasnya melimpah-limpah. Namun oleh adanya larangan-larangan,
norma-norma, tabu dan ada-istiadat yang ketat, anak harus mengendalikan dan
mengendalikan dan mengekang kecenderungan-kecenderungan serta nafsu-nafsu yang
asli. Oleh karena itu, mereka sering harus mendesakkan gelora-gelora nafsu dan
kehendak kedalam ketidaksadaran, dengan
cara melupakan, atau dengan tidak memikirkannya.
4.
Overprotection
Overprotection atau
perlindungan yang berlebihan dari orang
orang tua. Kasih sayang orang tua yang melimpah ruah kepada anaknya, menjadikan
anak tidak mampu berdiri sendiri dan tidak bisa mandiri , selalu dalam
keragu-raguan dan ketakutan, merasa dirinya kurang tumbuh dan selalu merasa
tidak percaya pada kemampuanya sendiri.
Jika tidak ada orang tua di
dekatnya, anak merasa lemah hati, hambar semanga, dan takut secara berlebihan. Biasanya
anak-anak sedemikian ini menjadai anak-anak penakut, munafik atau anak patuh
yang tidak wajar. Mereka menjadi penurut yang ekstrim tanpa memiliki kemauan
dan inisiatif, kurang berani berfikir mandiri dan tidak berani berbuat apa-apa,
tanpa dorongan orang tuanya. Mental dan kemauannya menjadi rapuh, lunak,
lembek, dan lemah sekali. Bahkan terkadang dapat menjadi diktator kecil, yaitu
anak-anak yang memiliki nafsu berkuasa sangat besar dan selalu ingin
mendominasi dan mentiranisir lingkungannya. Dan pada akhirnya itu cinderung
menjadi neurotis atau patologis secara sosial.
5.
Ditolak orang tua
Pasangan
suami-istri yang tidak pernah bisa memikiul tanggung jawab sebagai ayah dan
ibu. Pasangan suami istri yang mengalami maladjustment jelas merupakan persemaian
subur bagi tumbuhnya kekalutan jiwa anak-anaknya. Semua ini berpengaruh pada
pertumbuhan mental anak-anak. Mereka tidak pernah merasa bahagia, karena
ditolak oleh orang tuanya, dan sangat merana hidupnya. Mereka selalu cemas,
terhina dan menaruh dendam, dipenuhi penyesalan dan kekecewaan. Mereka tidak
betah tinggal dirumah sendiri, dan akan merasa lega jika bisa pergi atau
terlepas dari pengaruh lingkungan keluarganya. Pada akhirnya anak-anak
sedemikian ini tumbuh menjadi manusia yang kurang memiliki cinta kasih dan
simpati terhadap orang lain. Ada yang menjadi nervous, neurotis, terganggu
mentalnya, dan menjadi pasien rumah sakit jiwa.
6.
Broken homes
Keluarga merupakan lembaga
yang pertama dan terutama bagi anak tempat sosialisasikan dirinya. Bila dalam
keluarga terjadi keretakan, maka akan timbul rentetan-rentetan masalah terutama
bagi si anak. Batinnya akan tertekan dan menderita melihat perilaku orang
tuanya. Akan ada rasa bersalah dan berdosa, serta malu terhadap lingkungannya.
7.
Cacad jasmani
Anak anak yang memiliki
cacat pada tubuhnya akan merasa malu dan menderita batinnya. Hari depan mereka
terasa gelap, dipenuhi rasa rendah diri dan malu, ketakutan dan keragu-raguan.
Perasaan harga diri kurang, serta hilangya ambisi untuk mencapai suatu prestasi
tanpa pertolongan orang lain. Anak-anak akan merasa selalu gagal dalam segala
usahanya, ada bayangan ketakutan, karena mereka menyangka orang lain mampu
melakukan suatu tugas sedangkan dirinya tidak mampu melakukannya.
8.
Lingkungan sekolah
Kondisi sekolah dan
perguruan tinggi pada masa sekarang banyak yang tidak memenuhi persyaratan,
hingga menyebabkan timbulnya kesulitan-kesulitan batin, macam-macam penderitaan
jasmaniah dan konflik bagi anak. Iklim yang korupadn komersial yang banyak
melanda masyarakat modern, juga ikut-ikutan meliputi dunia pendidikan. Sikap
guru masa bodoh, sebab pada perinsipnya mereka sudah menstransmisikan bahan
peljaran dan tidak menghiraukan pribadi
anak didiknya, pelajaran dan perkuliahan diukur dngan uang. Sehingga peserta
didik mengalami banyak konflk batin, serta dapat menimbulkan bermacam-macam
gangguan emosional, gangguan intelektual, dan gangguan mentalpada para peserta
didik.
9.
Pengaruh buruk orang tua
Keluarga memberikan pengaruh
yang sangat menentukan pada pembentuanwatak dan kepribadian anak. Keluarga merupakan unit sosial terkecil
yang memberikan stempel dan fundasi dasar bagi perkembangan anak. Maka tingakah
laku kriminil orang tua atau salah seorang anggota anggota keluarga, hal ini
dapat memberikan impact/pengaruh yang menular dan infeksius kepada
lingkungannya.
Demikian pula tingaka laku
oarang tua yang amoral, asosial dan patologis penuh konflik-konflik batin, akan
sangat mudah menular pada anak-anak muda. Tempramen orang tua yang eksplosif
meledak-ledak, dan suka mabuk-mabukan, tidak hanya akan mentransmisikan efek
temperamen tersebut kepada anak-anaknya, akan tetapi juga menimbulkan iklim
demoralisasi psikis dan banyak menimbulkan konflik-konflik batin pada diri
anak.
10.
Lingkungan sosial yang buruk
Kelompok anak muda yang
terdiri atas anak-anak puber dan adolesns yang tengah kebingungan dan mengalami
banyak konflik batin, stress dan ketegangan syaraf yang tidak bisa mereka
pecahkan, ataupun anak yang kurang mendapat perhatian dari lingkungan sekitar,
ditolak dari orang tuanya, atau merasa tersudut dan dilupakan. Mereka akan
merasa sengsara batinnya ini
menggerombol dan mencari support moril dari teman-teman senasibnya. Dengan
berkelompok mereka akan merasa lebih kuat, merasa aman dan bisa salinhg menghibur.
Lalu mulailah mereka merancang kegiatan-kegiatan yang mentiranisir dan menteror
lingkungannya lewat tindakan kriminil, asosial dan amoral.

0 komentar: